Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Toba Harus Libatkan Komunitas Lokal

Pemandangan Danau Toba dari Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba. (foto:nimrot/mistar)
Toba, MISTAR.ID
Untuk mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di Kabupaten Toba, sudah seharusnya diterapkan konsep pariwisata berbasis komunitas atau Community Based Tourism yang melibatkan masyarakat lokal secara langsung.
Pernyataan ini disampaikan oleh Patrick Lumbanraja, seorang pengamat pariwisata, yang menyebutkan bahwa pariwisata yang dikelola dengan melibatkan masyarakat, khususnya warga lokal, akan memberikan dampak positif. Masyarakat lokal tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku utama dalam pengembangan wisata.
“Keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi elemen kunci dalam menentukan arah perkembangan pariwisata di daerahnya,” ujar Patrick pada Sabtu (30/8/2025).
Patrick menekankan pentingnya komunitas dalam mengelola pariwisata, dengan mencakup semua pihak dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, seperti perlindungan ekosistem, pengelolaan limbah, konservasi alam, dan pelestarian budaya. Menurutnya, seluruh aktivitas ini harus dilakukan dengan kesadaran untuk tidak merusak kemurnian kearifan lokal.
“Selain melindungi kearifan lokal, komunitas juga berperan dalam mempromosikan prinsip transparansi dan inklusivitas. Hal ini memungkinkan setiap pengunjung untuk mengetahui identitas masyarakat setempat yang kaya budaya dan selaras dengan alam,” tuturnya.
Patrick Lumbanraja, yang sebelumnya berpengalaman sebagai pelaku wisata di berbagai daerah seperti Bali dan Lombok, juga memiliki kontribusi besar dalam dunia pariwisata.
Keahliannya telah dimanfaatkan BPODT (Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba), dan saat ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Toba sering meminta saran darinya, terutama terkait side event pariwisata, seperti pada F1H2O 2025 di Toba. (nimrot/hm27)