Guru Sosiologi di Medan Ingatkan Dampak Game Online pada Anak Sekolah

Guru Sosiologi SMA Negeri 2 Medan, Juniarti Lumbantobing sedang mengajar di ruangan kelas. (Foto: Dokumentasi Juniarti/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Guru Sosiologi SMA Negeri 2 Medan, Juniarti Lumbantobing, menilai bermain game online sudah menjadi budaya baru di kalangan pelajar. Ia menyebut kemajuan teknologi telah menggeser permainan tradisional ke permainan modern yang lebih menantang dan canggih.
Meski memberikan manfaat positif seperti hiburan, memperluas jaringan sosial, dan melatih kemampuan memecahkan masalah, Juniarti menegaskan dampak negatif muncul ketika game mendominasi waktu anak sekolah.
Menurutnya, hal ini membuat anak mengesampingkan tanggung jawab sebagai pelajar, termasuk meningkatkan kemampuan akademik, soft skill, dan hard skill.
“Game online bisa menurunkan minat belajar. Karena game membuat ketagihan, bersifat menantang dan menyenangkan. Bahkan memberikan hadiah yang dapat meningkatkan rasa senang dan motivasi untuk terus memainkannya,” katanya kepada Mistar, Jumat (29/8/2025).
Ia menambahkan, bermain game secara berlebihan juga dapat membuat anak menjadi individualis karena kurang berinteraksi dengan orang di luar komunitas game.
“Hal ini akan menutup informasi tentang keadaan lingkungan sekitar sehingga menghasilkan kurangnya kepedulian. Kurang dapat menempatkan diri di posisi orang lain,” ujarnya lagi.
Menurut Juniarti, faktor utama anak mudah kecanduan game adalah kurangnya aktivitas yang lebih bermakna, padahal sekolah sudah menyediakan fasilitas pengembangan diri melalui berbagai ekstrakurikuler.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengontrol perilaku anak. Orang tua, katanya, perlu membangun komunikasi emosional dan bisa memulai dengan masuk ke dunia anak.
“Bisa dimulai dari manfaat bermain game, apa yang dirasakan anak ketika bermain, mengesampingkan dulu dampak negatifnya. Kalau kedekatan emosional sudah terbangun, orang tua lebih mudah memberi nasehat,” tutur Juniarti.
Juniarti mengatakan, di SMAN 2 Medan sendiri, pembatasan penggunaan handphone sudah dilakukan untuk mengurangi waktu bermain game. Namun, Juniarti menilai solusi terbaik adalah harus melibatkan semua pihak baik sekolah, orang tua, masyarakat maupun pemerintah.
“Sekolah membatasi penggunaan handphone, orang tua menetapkan aturan di rumah, dan pemerintah bisa menetapkan batas usia serta jenis game yang bisa diakses anak sekolah,” ucapnya.
Ia juga menambahkan, bahwa untuk mendukung literasi digital agar lebih bermakna positif, diharapkan seluruh stakeholders dengan sengaja menyebarkan informasi positif dan mengurangi penyebaran didikan negatif. Karena anak-anak butuh role model yang positif. (susan/hm25)