Sunday, August 31, 2025
home_banner_first
SUMUT

Pengrajin Atap Rumbia di Hamparan Perak Butuh Modal untuk Peningkatan Usaha

journalist-avatar-top
Minggu, 31 Agustus 2025 05.30
pengrajin_atap_rumbia_di_hamparan_perak_butuh_modal_untuk_peningkatan_usaha

Kegiatan pembuatan atap rumbia di Sei Baharu Dusun V, Kecamatan Hamparan Perak, yang kini semakin langka namun masih dibutuhkan sebagian kalangan. (Foto: Kamaluddin/Mistar)

news_banner

Deli Serdang, MISTAR.ID

Dulu menjadi pilihan utama karena harga terjangkau dan kemampuannya menjaga kesejukan rumah, atap rumbia kini mulai terlupakan. Namun, para pengrajin yang masih bertahan berharap adanya perhatian untuk melestarikan warisan ini di tengah kemajuan zaman.

Siti Fatimah, 62 tahun, warga Sei Baharu Dusun V, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, yang telah menekuni usaha pembuatan atap rumbia selama 30 tahun, mengatakan usahanya kini mengalami penurunan.

"Dulu atap rumbia banyak diminati, namun kini pemasaran sangat sulit, terutama karena bahan bakunya yang semakin langka dan mahal," ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (30/8/2025).

Pembuatan atap rumbia merupakan usaha turun-temurun yang diwariskan dari kakeknya, dan kini dikerjakan bersama anak dan tetangganya. Namun, dengan semakin sulitnya mendapatkan pohon rumbia dan tingginya harga bahan baku, pendapatan dari usaha ini semakin menurun.

"Karena lahan tumbuhnya pohon rumbia banyak dijadikan pemukiman, kami kesulitan mencari bahan baku. Harga beli daun rumbia juga sudah sangat tinggi," ujar Siti.

Untuk satu lembar atap, harga yang ditawarkan berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2.000, namun harga jual ini tidak sebanding dengan biaya produksi yang meningkat.

Meskipun pengusaha panglong di sekitar Hamparan Perak masih membeli atap rumbia, Siti mengungkapkan usahanya terbatas oleh modal. "Kami tidak bisa menambah stok banyak karena kekurangan modal. Kami berharap pemerintah bisa memberikan bantuan modal agar usaha ini bisa berkembang lebih baik," katanya berharap.

Sejak memulai usaha, Siti Fatimah mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah dalam bentuk apapun. Ia berharap ada perhatian dan dukungan agar usaha pembuatan atap rumbia ini bisa terus bertahan dan berkembang. (kamaluddin/hm25)

REPORTER:

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN