Peran Penting PAUD dalam Program Wajib Belajar 13 Tahun


Kepala BPMP Sumut, Tajuddin Idris. (f: susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sumut, Tajuddin Idris, menegaskan jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran krusial dalam menanamkan karakter. Hal ini penting, terutama pada program wajib belajar 13 tahun.
“PAUD ini jenjang paling dasar dan penekanan utama bukan literasi numerasi, melainkan pembentukan karakter. Transisi dari PAUD ke SD ini penting bagaimana agar anak merasa senang dengan pendidikan,” katanya kepada Mistar, Jumat (28/2/2025).
Melalui transisi tersebut, lanjutnya, anak-anak yang terbiasa bermain dan menikmati kegiatan di PAUD diharapkan dapat membawa kebiasaan positif itu ke SD.
Tajuddin juga menyoroti banyaknya anak didik yang merasa terbebani, bahkan trauma dengan kegiatan belajar di sekolah. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memastikan bahwa transisi PAUD ke SD dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan.
Ia mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada berbagai PAUD, terutama di Kota Medan. Program ini bertujuan untuk mereplikasi praktik-praktik baik dalam pendidikan anak usia dini, sehingga dapat diterapkan lebih luas.
“Kami memberikan pendampingan kepada guru-guru PAUD agar mereka bisa memahami karakter setiap anak. Setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Ada yang aktif, ada yang lebih tenang. Pendekatan dalam pembelajaran tidak boleh disamaratakan,” ucapnya.
Tajuddin juga menekankan pentingnya perubahan metode evaluasi pembelajaran. Saat ini, pendekatan bukan sekadar memastikan anak mampu membaca atau menghitung, tetapi juga memahami konsep secara mendalam dan mampu menjelaskannya dalam bentuk narasi.
“Misalnya, kalau dulu anak cukup menjawab dua tambah dua adalah empat, sekarang mereka harus bisa menjelaskan bagaimana prosesnya. Mereka harus memahami bahwa dua pohon yang didatangi dua burung akan menghasilkan total empat objek, bukan sekadar angka di atas kertas,” ujar Tajuddin menjelaskan.
Konsep pembelajaran ini, kata Tajuddin, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengusung pendekatan joyful (menyenangkan), meaningful (bermakna), and mindful learning (pendekatan).
Melalui upaya ini, harap Tajuddin, mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan dan efektif bagi anak-anak selama 13 tahun masa pendidikan. (susan/hm20)
NEXT ARTICLE
Dian Sastrowardoyo Produseri Qodrat 2