Kisah Asfi Zahra, Siswi 16 Tahun MAN 2 Medan Lolos Kedokteran USU


Kisah Asfi Zahra Al Jannah (Foto: Koleksi pribadi/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Usianya baru 16 tahun. Namun, di usia semuda itu prestasinya tak main-main. Dia sudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) Medan.
Namanya Asfi Zahra Al Jannah. Dia siswa akselerasi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Model Medan. Bangku sekolah menengah yang biasanya tiga tahun, dia tempuh hanya dua tahun. Dia diterima di FK USU jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Sejak kecil, Asfi ternyata sudah berminat ambil jurusan kedokteran. Dia mengaku senang belajar biologi. Dia berkeinginan menyelamatkan hidup banyak orang.
“Walau dibilang gajinya kadang nggak balik modal dengan uang kuliahnya, tapi pas melihat orang bahagia, jadi ikutan bahagia,” katanya kepada Mistar, Rabu (2/4/2025).
Sebagai siswa akselerasi yang hanya menempuh pendidikan selama dua tahun, ia sempat meragukan kemampuannya. Namun, ia tetap berusaha dengan giat.
“Kuncinya ada dua, yaitu nilai akademik dan sertifikat lomba,” ujarnya.
Untuk menjaga nilai tetap tinggi, Asfi selalu aktif di kelas, mengerjakan tugas tepat waktu, dan mendengarkan penjelasan guru dengan baik. Ia juga membiasakan diri membaca materi sebelum kelas dimulai agar lebih memahami pembelajaran.
Di luar sekolah, ia juga meraih juara satu dalam lomba bercerita menggunakan bahasa Jerman (Märchen) di Universitas Negeri Medan (Unimed) pada saat kelas X.
“Karena di akselerasi memang ketat banget belajarnya, susah buat ngimbangin mana lomba dan mana belajar,” ucapnya.
Meskipun telah berusaha keras, Asfi tetap menghadapi berbagai kendala, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Ia mengakui sering merasa jenuh dan minder saat melihat teman-temannya yang lebih unggul.
“Suka ngerasa minder 'mereka jago banget belajar ini’. Kendala dalam mengatur waktu juga ada,” ucapnya.
Selain itu, ia juga merasakan tantangan, contohnya saat salah seorang guru lebih dominan terhadap siswa tertentu.
Untuk mengatasi kejenuhannya, Asfi memilih mendengarkan musik saat belajar atau berbicara dengan orang tuanya.
“Kadang motivasi dari mereka (orang tua), nggak harus mereka ngomong, ngeliat aja itu udah buat kita ngerasa 'aku harus berjuang lebih keras lagi buat dia bisa bahagia',” katanya menjelaskan.
Anak pertama dari tiga bersaudara itu juga mengungkapkan, awalnya ia bercita-cita masuk ke Universitas Pertahanan (Unhan) dengan jurusan yang sama.
Sebelumnya, Asfi juga ingin memilih Universitas Airlangga (Unair) atau Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan jurusan yang sama, namun orang tuanya tidak mengizinkan kuliah ke luar kota karena ia adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga.
“Bahkan dulu sampe nggak bisa terima, karena banyak temen-temen yang ngambil kuliah di luar. Tapi, memang rezeki Asfi nggak di sana. Alhamdulilah, dapatlah di FK USU tahun ini lewat SNBP, sesuai harapan Asfi dan orang tua,” tuturnya.
Sejak kecil, Asfi sudah terbiasa bekerja keras dalam akademik. Ia selalu berusaha mendapatkan peringkat terbaik di sekolahnya.
“Alhamdulilah, sejak SD memang selalu usaha keras buat dapet ranking. Bahkan, kalau nggak dapet pasti nangis. Di SMA, alhamdulilah selalu dapat ranking 1 dan 2,” ujarnya bangga.
Meski sempat sedih dan kecewa karena sebelumnya MAN 2 Medan mengalami kendala pendaftaran SNBP, Asfi berpesan agar teman-temannya tetap semangat dalam mengejar cita-cita, baik yang telah lolos SNBP maupun yang masih berjuang di jalur lain.
“Percayalah rezeki kita telah ditentukan masing-masing oleh Allah, dan ingatlah bahwa sesuatu yang baik buat kita tidak akan pernah melewatkan kita,” katanya.
Untuk adik-adik kelasnya yang masih mempersiapkan diri, Asfi menekankan pentingnya memahami jurusan yang akan dipilih dan mempersiapkan diri sejak dini, termasuk mengikuti lomba-lomba.
“Perlombaan bukan hanya untuk mendapatkan sertifikat, tapi juga melatih mental menghadapi tekanan. Jangan hanya mengandalkan nilai akademik, persiapkan diri untuk SNBT, dan jalur seleksi lainnya,” ucapnya. (Susan)