Tidak Perlu Dimasak, Ini Kuliner Paling Lezat Para Raja Batak


Naniura makanan khas Batak.(f:ist/mistar)
Toba, MISTAR.ID
Raja-raja dan bangsawan Batak terdahulu yang tinggal di sekitaran Danau Toba memiliki makanan rahasia, yang tidak perlu dimasak menggunakan api dan tak semua orang dapat meresepnya menjadi makanan terlezat. Rahasia pengolahannya diturunkan pada orang tertentu saja.
Jenis makanan atau kuliner yang tidak dimasak menggunakan api tersebut dinamakan masyarakat Batak 'naniura'. Di mana proses pembuatannya, berupa proses fermentasi, yang dibubuhi bumbu tertentu, sehingga menjadi lunak dan bisa langsung dimakan dengan aroma yang menggiurkan.
Dulunya, sajian kuliner naniura disajikan khusus menyambut para raja dan bangsawan, serta saat dilakukan acara-acara istimewa seperti upacara-upacara adat. Pengolahannya juga tidak diberikan kepada sembarangan orang, sudah ditentukan dalam satu daerah yang ahli mengolah, sehingga cita rasa dapat dipertahankan.
Berbeda dengan situasi saat ini, banyak jenis ikan yang bisa diura seperti, ikan mas, ikan mujair, ikan nila dan lainnya. Dulunya jenis ikan segar yang akan diolah hanya "Ihan Batak', karena diyakini memiliki nilai sakral dan tekstur daging yang lebih nikmat di lidah, setelah diolah menjadi makanan naniura.
Seiring waktu, kuliner istimewa naniura tidak lagi menjadi makanan yang disajikan dalam moment tertentu. Sajian ini sudah dapat dinikmati setiap orang, karena sudah dijajakan di rumah makan, khususnya di kawasan Danau Toba.
Bagi yang baru menikmati sajian ini, akan merasakan sensasi yang unik, tekstur daging yang lembut, namun masih terasa rasa daging mentahnya. Namun di situ lah letak sensasinya, daging segar mentah yang tidak berbau amis berganti dengan aroma bumbu tradisional Batak yang menyegarkan di lidah.
Campuran bumbu yang dilumuri ke daging ikan segar adalah, jeruk nipis, jeruk jungga, batang rias, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kemiri, kunyit dan andaliman, serta garam secukupnya sesuai selera. Setelah dilumuri dengan bumbu, kemudian didiamkan selama lebih kurang 3-5 jam, baru dapat dinikmati.
Monang Sitorus, warga Kelurahan Pasar Porsea, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba juga mengakui, kuliner naniura merupakan sajian istimewa bagi orang-orang terhormat dan tidak semua orang mampu mengolah, sehingga memiliki cita rasa yang memuaskan.
"Memang di era sekarang, telah banyak orang mengetahui pengolahannya. Tetapi belum tentu kenikmatan naniura mencapai level terbaik, seperti yang dimiliki oleh orang tua dan leluhur saya," kata Monang, Kamis (3/4/2025).
Menurutnya, leluhurnya hingga orang tuanya merupakan kepercayaan dari raja-raja Batak dan orang berpengaruh untuk mengolah makanan naniura. Hingga terakhir orang tuanya di tahun 1980 an masih dipercaya, setiap datangnya tamu istimewa (pejabat Batak) dari Jakarta.
"Apabila sajian naniura tidak diolah orang tuanya, maka pejabat tersebut tak akan menyantapnya. Karena memiliki rasa yang tidak sesuai selera lidah pejabat tersebut," ujarnya.
Monang sangat menyesali, keahlian yang dimiliki oleh leluhurnya tidak dipelajarinya atau diterapkan. Sehingga pengolahan naniura yang memiliki kenikmatan sempurna yang digemari petinggi terputus di tangannya. (nimrot/hm16)
PREVIOUS ARTICLE
Asal Usul Ketupat Sebagai Hidangan Khas Lebaran