Friday, February 28, 2025
home_banner_first
EDUKASI

Deep Learning Bukan Kurikulum, Berikut Penjelasan Pemerhati Pendidikan

journalist-avatar-top
By
Kamis, 27 Februari 2025 20.41
deep_learning_bukan_kurikulum_berikut_penjelasan_pemerhati_pendidikan

Pemerhati Pendidikan, Doni Koesoema A. (f:ist/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pemerhati Pendidikan, Doni Koesoema A menjelaskan deep learning bukanlah sebuah kurikulum, melainkan sebuah model pembelajaran.

Doni mengaku kerap mendapat pertanyaan terkait deep learning. Terlebih setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menyampaikan deep learning akan menerapkan pembelajaran mindful (pendekatan), joyful (menyenangkan) dan meaningful (bermakna).

“Yang jelas, Pak Mu’ti sudah menegaskan, deep learning bukan sebuah kurikulum,” kata Doni, Founder Pendidikan Karakter Education Consulting, Kamis (27/2/2025).

Dosen Universitas Multimedia Nusantara itu mengatakan konsep ini lebih berkaitan dengan bagaimana guru mengajar dan siswa memahami informasi secara mendalam.

Dia menambahkan deep learning dalam konteks pendidikan diartikan sebagai proses belajar yang sistematis, berlapis-lapis, dan berbasis pengalaman, serupa dengan cara kerja otak manusia dalam menyerap dan mengolah data.

“Jadi pendekatan deep learning Itu adalah sebuah proses identifikasi atau pengenalan sebuah benda atau informasi berdasarkan kriteria bentuk-bentuk tertentu yang disaring semakin kecil, semakin detail sehingga otak kita itu kemudian bisa menarik kesimpulan tentang segala sesuatu,” ucapnya.

Dosen lulusan Boston College Lynch School of Education tahun 2008 itu menjelaskan konsep ini diterapkan dalam pembelajaran dengan melatih siswa untuk memilah dan mengklasifikasi informasi secara bertahap.

Sebagai contoh, dalam pendidikan anak usia dini diberikan berbagai jenis buah dengan warna berbeda, dan diminta mengelompokkan buah berdasarkan warna atau bentuknya.

Latihan seperti ini, kata Doni, dapat membantu anak memahami pola dan membandingkan informasi serta menarik kesimpulan kemampuan yang juga menjadi dasar pengembangan kecerdasan buatan.

“Jadi sebenarnya yang harus dipahami oleh bapak ibu guru adalah bagaimana bapak ibu guru memahami cara kerja otak kita. Nah ilmu ini namanya ilmu Neurosains,” tuturnya.

Dikatakan Doni, kemampuan otak manusia dapat menyeleksi berbagai macam data dan anak-anak harus dilatih untuk menyeleksi mana data yang relevan dan yang tidak. (susan/hm18)

RELATED ARTICLES