Thursday, February 27, 2025
home_banner_first
MEDAN

Akademisi USU Tanggapi Tagar Indonesia Gelap di Medsos

journalist-avatar-top
By
Kamis, 27 Februari 2025 14.49
akademisi_usu_tanggapi_tagar_indonesia_gelap_di_medsos

Akademisi USU, Prof. Iskandar Zulkarnain. (f: ist/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Iskandar Zulkarnain tanggapi penggunaan tagar Indonesia Gelap yang viral di media sosial (medsos).

Menurut Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi USU itu, tagar ini memperlihatkan keresahan masyarakat terhadap keterbukaan informasi.

"Banyak yang merasa bahwa informasi penting tidak disampaikan secara jelas, sehingga mereka menggunakan media medsos untuk menyuarakan ketidakpuasan dan menuntut keadilan," katanya kepada Mistar, Kamis (27/2/2025).

Selain itu, Iskandar menyoroti dampak polarisasi opini yang muncul akibat penggunaan tagar ini.

Menurutnya, media sosial sering kali memperkuat ‘echo chambers’, di mana orang hanya mendengar pendapat yang sesuai dengan pandangan mereka. Ini berpotensi memecah belah masyarakat.

Tantangan lain yang muncul adalah penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Sering kali, di balik tagar ini terdapat hoaks atau informasi yang tidak akurat.

“Hal ini dapat menambah kebingungan dan ketidakpastian di kalangan masyarakat, serta merusak kepercayaan terhadap media dan institusi,” ucapnya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Iskandar menilai perlunya peningkatan literasi media. Sehingga membuat masyarakat menjadi konsumen informasi yang lebih kritis.

“Selain itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu menciptakan ruang untuk dialog terbuka dengan masyarakat, berupa forum diskusi atau sesi tanya jawab di medsos. Jadi, masyarakat bisa langsung berinteraksi dan menyampaikan aspirasi mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga harus meningkatkan transparansi dalam penyampaian informasi. Publik membutuhkan akses terhadap data yang akurat dan jelas terkait kebijakan, serta dampaknya.

Sebagai langkah tambahan, kata Iskandar, kampanye positif di media sosial juga bisa menjadi solusi.

“Menggunakan media sosial untuk menyebarkan narasi yang konstruktif dan solusi nyata dapat menjadi langkah yang efektif,” tuturnya.

Ia berharap, dengan pendekatan yang lebih inklusif dan edukatif, masyarakat tidak hanya menggunakan media sosial untuk menyuarakan ketidakpuasan, tetapi juga untuk berkontribusi pada dialog dan perubahan yang lebih positif. (susan/hm20)

RELATED ARTICLES