Akademisi USU Tanggapi Tagar Indonesia Gelap di Medsos


Akademisi USU, Prof. Iskandar Zulkarnain. (f: ist/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Iskandar Zulkarnain tanggapi penggunaan tagar Indonesia Gelap yang viral di media sosial (medsos).
Menurut Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi USU itu, tagar ini memperlihatkan keresahan masyarakat terhadap keterbukaan informasi.
"Banyak yang merasa bahwa informasi penting tidak disampaikan secara jelas, sehingga mereka menggunakan media medsos untuk menyuarakan ketidakpuasan dan menuntut keadilan," katanya kepada Mistar, Kamis (27/2/2025).
Selain itu, Iskandar menyoroti dampak polarisasi opini yang muncul akibat penggunaan tagar ini.
Menurutnya, media sosial sering kali memperkuat ‘echo chambers’, di mana orang hanya mendengar pendapat yang sesuai dengan pandangan mereka. Ini berpotensi memecah belah masyarakat.
Tantangan lain yang muncul adalah penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Sering kali, di balik tagar ini terdapat hoaks atau informasi yang tidak akurat.
“Hal ini dapat menambah kebingungan dan ketidakpastian di kalangan masyarakat, serta merusak kepercayaan terhadap media dan institusi,” ucapnya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Iskandar menilai perlunya peningkatan literasi media. Sehingga membuat masyarakat menjadi konsumen informasi yang lebih kritis.
“Selain itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu menciptakan ruang untuk dialog terbuka dengan masyarakat, berupa forum diskusi atau sesi tanya jawab di medsos. Jadi, masyarakat bisa langsung berinteraksi dan menyampaikan aspirasi mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga harus meningkatkan transparansi dalam penyampaian informasi. Publik membutuhkan akses terhadap data yang akurat dan jelas terkait kebijakan, serta dampaknya.
Sebagai langkah tambahan, kata Iskandar, kampanye positif di media sosial juga bisa menjadi solusi.
“Menggunakan media sosial untuk menyebarkan narasi yang konstruktif dan solusi nyata dapat menjadi langkah yang efektif,” tuturnya.
Ia berharap, dengan pendekatan yang lebih inklusif dan edukatif, masyarakat tidak hanya menggunakan media sosial untuk menyuarakan ketidakpuasan, tetapi juga untuk berkontribusi pada dialog dan perubahan yang lebih positif. (susan/hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Dugaan Mafia Tanah di Jalan Gandhi Medan, Ini Kata Kuasa HukumNEXT ARTICLE
Warga Tembung Ditangkap Jual Sabu di Tanah Karo