Pengamat USU Tanggapi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia melalui Danantara


Pengamat Ekonomi dari USU, Wahyu Ario Pratomo. (f:amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pengamat Ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo, mengatakan Presiden Prabowo Subianto mencanangkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia harus lebih tinggi dari lima persen melalui Danantara.
"Selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lebih dari lima persen, sehingga apapun menjadi tidak maksimal," ujarnya dalam podcast Mo Tau Aja di Kantor Harian Mistar, Jalan Kejaksaan, Kota Medan, Selasa (25/3/2025).
"Contohnya lapangan pekerjaan karena penduduk yang terus bertambah, pendapatan, kemiskinan, dan pengangguran," katanya menambahkan.
Hal tersebut dapat diatasi dengan investasi yang digerakkan pemerintah dan swasta. Investasi pemerintah secara nasional ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di daerah.
"BUMN ada yang bagus dan ada yang tidak, tapi pada prinsipnya masih cukup baik dan berkontribusi untuk ekonomi. Tapi belum optimal," ucapnya.
Ia menyampaikan, ada lembaga investasi di Singapura dan Malaysia yang modalnya diberikan oleh pemerintah.
"Operasionalnya profesional dan diisi orang hebat di bidangnya, kita harus mencontoh itu. Di BUMN masih ada titipan, sehingga masih terafiliasi dengan yang menitip mengakibatkan belum independen sepenuhnya," ujarnya.
Sebelum Danantara, lanjutnya, sudah ada lembaga pengelola investasi lain, yakni Indonesia Investment Authority (INA) yang dibentuk oleh Kementerian Keuangan.
"Mereka bergabung untuk berinvestasi, karena harus besar dan membutuhkan dana yang besar juga," ujar Wahyu.
INA bergerak di bidang jalan tol dan mengakuisisi yang dijalankan oleh BUMN. Hal tersebut dilakukan agar mendapat dana segar.
"Selain jalan tol, mereka berinvestasi di pelabuhan dan bidang energi. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang cukup banyak tapi tidak bisa dimanfaatkan," katanya.
Akibat dari itu, pemerintah membentuk Danantara yang bertugas menjaring mitra.
"Jika hanya berharap dana BUMN tentu terbatas, apalagi uang pemerintah. Lembaga investasi dunia tidak mau jika tidak profesional, jika ini ada mungkin investor tertarik," ucapnya.
Wahyu menyampaikan, dengan bergabungnya tujuh BUMN diharapkan semakin banyak investor asing yang berinvestasi di Indonesia.
"Tapi ini masih penuh tantangan, orang melihat dulu siapa yang dilantik jadi pengurusnya," ujarnya.
Danantara, lanjutnya, dijamin tidak terafiliasi dengan lembaga yang memiliki urusan politik. Karena investor yang akan berinvestasi tidak tertarik, khawatir bekerja untuk siapa.
Dengan adanya lembaga ini, diharapkan lebih banyak investasi masuk serta sektor potensial kita menjadi lebih banyak dan fokus.
"Jika uang tidak cukup dari pemerintah, cari partner. Investasi yang diharapkan jangan di pasar modal saja, kita banyak uang masuk tapi bukan di sektor ril dan pabrik. Itu risikonya tinggi," tuturnya. (amita/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Jelang Lebaran, Harga Daging Sapi di Kota Medan Masih StabilNEXT ARTICLE
Bulog Siantar Beberkan Kendala Penyerapan Gabah